Work Life Balance ala Nokia Siemens Networks
Di Jakarta, karyawan Nokia Siemens Networks (NSN) di Menara Mulia, kawasan Gatot Subroto, juga dimanjakan dengan sejumlah fasilitas. Mulai dari mothers room, mini golf, massage chair, fussbal table, ninetendo wii sampai shower room untuk karyawan yang ingin mandi di kantor, khususnya bagi mereka yang bersepeda ke kantor alias bike to work.
Belum lagi program ties up. Cukup dengan menunjukkan tanda pengenal karyawan (ID Card), karyawan NSN akan mendapat diskon saat menyambangi klinik gigi, optik, salon, kafe dan pusat kebugaran yang berada di area perkantoran tersebut. Selain itu, karyawan NSN juga mendapat diskon di Dufan, Gramedia, pelatihan ESQ, juga pembelian ponsel Nokia.
Oh ya, saban Rabu, karyawan juga bisa menikmati fruit day yang digelar di area break-out yang disediakan perusahaan untuk meningkatkan kesehatan dan pola hidup sehat. Ups, ada juga event mancing bersama, nonton bareng, paintball, jam session, health talk show, pengajian, dan ulang tahun bersama karyawan yang digelar setiap bulan di area break-out. Ada pula kegiatan olah raga rutin karyawan, mulai dari futsal, aerobik, yoga, badminton, pingpong, aikido hingga klub playstation.
Shinta Fitra Dewi dari project administration NSN sangat mengapresiasi program dan fasilitas yang diberikan perusahaan. Meski, karena kesibukan bekerja, belum semua fasilitas bisa ia manfaatkan. Yang pasti, mothers room adalah fasilitas yang membuat Shinta sangat senang. Maklum, sebentar lagi ia akan menjadi seorang ibu. Sementara acara kumpul bareng karyawan, seperti paintball, dinilainya bisa lebih mengakrabkan karyawan. “Karyawan NSN banyak, kami bisa bertemu di acara-acara semacam itu,” ungkap alumni Universitas Padjadjaran, Bandung, itu.
Menurut Irvandi Ferizal, Country HR Director NSN Indonesia, yang dilakukan pihaknya sejatinya bukan semata untuk kenyamanan karyawan dalam bekerja, tetapi juga merupakan cara NSN menerapkan Employee Value Proposition (EVP). Konsep ini memang dari kantor pusat NSN, tetapi implementasinya diserahkan ke negara masing-masing. “Konsep EVP ini dalam rangka employee experience, bagaimana membuat karyawan punya experience. Tidak hanya bekerja, tapi ini adalah kehidupan secara total di kantor,” ujarnya.
Irvandi menjelaskan, dalam konsep EVP, ada tiga tipe aktivitas: discover (hal-hal yang berhubungan dengan pengembangan wawasan dan inovasi), care (berhubungan dengan kesehatan, hidup yang lebih baik) dan network (berhubungan dengan hubungan interpersonal/sosial). Karena itu, disediakan beragam fasilitas yang tujuan akhirnya bukan semata hiburan dan olah raga. “Tetapi, kegiatan kekaryawanan dalam payung yang disebut livelife,” katanya.
Dengan livelife, NSN menekankan pentingnya konsep work life balance (keseimbangan hidup). Jadi, di samping aktivitas rutin karyawan untuk menghasilkan prestasi terbaiknya, diharapkan mereka tetap ada keseimbangan yang dipercaya akan memacu inovasi dan adrenalin positif dalam bekerja. “Yang dibutuhkan tidak hanya rational engagement, namun juga emotional engagement. Tujuan akhir dengan disediakan fasilitas tersebut, karyawan melihat NSN sebagai sebuah rumah. Apalagi, NSN adalah perusahaan telekomunikasi yang tentunya sangat mengedepankan inovasi dan knowledge management dengan fleksibilitas yang tinggi, papar Irvandi.
Untuk mencapai tujuan tersebut, tak hanya fasilitas, ruang kerja pun didesain agar memberikan atmosfer egaliter. Semuanya terbuka. Tidak ada ruangan khusus, termasuk untuk direktur seperti lazimnya banyak perusahaan. Di setiap sudut terdapat sofa, meja-meja bundar dan kursi ala bar, yang memungkinkan karyawan bisa bekerja di mana saja — tidak harus di meja kerjanya — dengan akses Wi-Fi. Konsep ruang ini untuk mendorong iklim komunikasi yang terbuka sekaligus kultur invovasi.
Sementara untuk pembicaraan personal atau empat mata, tersedia Phone Booth (ruang kecil ala wartel) dan beberapa ruang rapat dengan nama khas, antara lain tokoh wayang dan alat musik tradisional, seperti Kresna, Nakula, Arjuna, Sasando, Angklung dan Gamelan. Nama-nama itu diberikan oleh karyawan. Di mata Shinta, suasana berbeda yang dihadirkan di ruang kerja menjadikan karyawan lebih kreatif dan inovatif. “Kultur kerja di NSN sangat cair, atasan dan bawahan bekerja dalam satu ruangan,” ungkapnya.
Dijelaskan Irvandi, semua fasilitas yang telah disebutkan di atas sebagian sudah dimulai pada saat penggabungan Nokia Networks dan Siemens Communication, yang secara global berdiri pada April 2007. Akan tetapi, secara lengkap baru diluncurkan pada Desember 2008, saat integrasi kantor pusat NSN Indonesia yang sebelumnya tersebar di beberapa tempat menjadi satu tempat, yakni di Menara Mulia. Menurutnya, tidak ada investasi khusus yang dicadangkan. Pasalnya, fasilitas yang diberikan merupakan hasil efisiensi dari integrasi multioffice menjadi satu lokasi. “Efisiensi ini jauh lebih besar daripada penyediaan fasilitas yang diyakini mendorong semangat kerja karyawan,” ungkapnya.
Irvandi mencontohkan bentuk efisiensi dalam hal energi dengan digunakannya kaca-kaca di semua lantai sehingga tidak perlu pakai tirai atau gorden. Pukul 19.30, satpam berkeliling mematikan sebagian lampu yang tentunya mendorong karyawan harus pulang sebagai wujud work life balance. “Semuanya dilakukan dalam bujet yang terjaga dan tetap efisien. NSN tetap berupaya beroperasi secara efisien,” katanya. Menurutnya, banyak hal yang bisa dilakukan tanpa harus mengeluarkan dana yang berlebihan. Ia mengaku tidak tahu besaran investasi yang dianggarkan. Yang pasti, sejak NSN terintegrasi, yang tadinya ada 33 menjadi 17 kantor, kemudian yang di Jakarta dari tiga menjadi satu kantor, ada semacam efisiensi. “Dananya dialokasikan untuk karyawan agar bisa bekerja lebih nyaman dan lebih baik,” ungkapnya.
Irvandi mengatakan, tidak semua kegiatan dibayar perusahaan. Contohnya, kerja sama dengan salon, kafe, pusat kebugaran, dan lainnya. Begitu juga dengan kegiatan paintball games yang tidak murni gratis. Aturan mainnya, terlebih dulu didata karyawan yang berminat, setelah itu baru diberikan subsidi bagi karyawan yang berminat. Atau, kegiatan penanaman pohon di Gunung Pangrango, setiap pohon membutuhkan biaya Rp 108.000 untuk tiga tahun. Nah, karyawan NSN berkontribusi Rp 18.000 dan perusahaan berkontribusi Rp 90.000. “Tetapi kebanggaan dan partisipasi karyawan jauh lebih besar,” ujarnya.
Selain itu, perusahaan juga membangun NSN sebagai family dengan melibatkan anggota keluarga dalam program NSN. Seperti lomba gambar anak karyawan, dan hasilnya dipajang di ruang rekreasi di kantor NSN. Kemudian, penanaman pohon dengan melibatkan anggota keluarga yang ingin berpartisipasi. Juga, akan digelar Kid Visit to the Office untuk membangun rasa bangga pada anak-anak yang orang tuanya bekerja di NSN. Selain, tentu saja, melanjutkan pogram-program pengembangan karyawan melalui NSN Academy ataupun Pengembangan Leadership dan lebih mengeksplorasi program-program untuk mendorong inovasi karyawan melalui program sumbang saran, yang di NSN disebut IDEAS.
Diakui Irvandi, buah dari berbagai fasilitas dan kegiatan tersebut adalah meningkatnya hasil Employee Engagement Survey. Tahun 2008, Engagement Index NSN Indonesia adalah 71, dan pada 2009 meningkat menjadi 83,3. Sebagai pembanding, high performing company di tingkat global indeksnya 84. “Dengan segala inisiatif yang dilakukan, tingkat keterikatan dan kebanggaan karyawan yang berujung pada produktivitas meningkat secara signifikan,” kata Irvandi tandas. (SWA)